KUE BAHAN LOKAL PUNYA PROSPEK BAGUS
Aneka kue dan jajanan berbahan lokal seperti pisang, labu, ubi, jagung dan sebagainya ternyata mempunyai peluang pasar yang menjanjikan. “Aneka kue berbahan pangan non beras ini diminati masyarakat bahkan oleh wisatawan Australia serta Belanda,†ujar Wayan Nugra, instruktur Sekolah Perhotelan Bali (SPB), Minggu (7/10). Selain bercita rasa unik, kue berbahan non beras juga mempunyai penampilan yang tak kalah menariknya dibandingkan kue berbahan beras. Demikian diungkapkan Nugra saat memberi pelatihan yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar di Kantor Desa Dauh Puri Kangin Kec Denpasar Barat.
Selain mendapat pelatihan selama 4 hari (6–9 Oktober), peserta yang merupakan ibu rumah tangga juga mendapat bantuan kompor gas lengkap dengan tabung dan peralatan membuat kue. Lebih jauh mantan chef pastry di beberapa hotel berbintang ini menambahkan bahwa potensi bahan pangan non beras tersedia cukup banyak di Indonesia. “Alam Indonesia menyediakan beragam bahan pangan non beras yang belum tentu dimiliki negara lain, seperti pisang, labu kuning, tape, ketela, ubi jalar,jagung dan sebagainya†jelasnya. Pengalaman bekerja di berbagai hotel luar negeri macam Australia, Belanda, Singapura, Malaysia dan Brunei memotivasinya untuk membuat panganan berbahan lokal bercita rasa internasional. “Kelemahan pembuat kue tradisional adalah dalam penyajian, hygienitas yang kurang dan jarang memakai takaran,†jelasnya. Padahal penyajian yang menarik tentu akan menambah minat pembeli sedangkan hygienitas membuat kue tidak cepat basi. “Pemakaian alat ukur yang tepat juga membuat cita rasa kue terkontrol dan pasti pas asal sesuai takaran resep,†jelas Nugra. Kebiasaan mengira-ngira tanpa alat ukur membuat cita rasa tidak stabil. Pihaknya juga menyarankan penggunaan bahan pewarna alami seperti biru dari bunga teleng, kuning dari kunyit, hijau dari daun suji dan sebagainya. Penggunaan pewarna dan pengawet alami selain lebih sehat juga membuat kue jadi lebih murah.
Kadis Dipperindag Drs I Dewa Gede Dharendra Bk.Teks menyatakan bahwa pelatihan yang menyasar ibu rumah tangga ini sebagai upaya pemerintah membuka peluang dan kesempatan kerja. “Selain untuk mengurangi pengangguran juga untuk memberdayakan perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga,†ujarnya di sela-sela pelatihan. Kegiatan yang digelar serangkaian program ekonomi kerakyatan ini berlangsung hingga akhir Oktober 2007 dan menyasar ibu-ibu di 6 desa/lurah. (Wr)