GONG KEBYAR SELALU SEDOT PENONTON
Dari hari pertama hingga kemarin petang, parade gong kebyar wanita dan anak-anak tidak pernah sepi dari penonton. Kenyataan ini membuktikan bahwa kecintaan masyarakat terhadap seni dan budaya yang dimilikinya tidak pernah padam. Demikian dikatakan Drs. I Made Mudra, M.Si Kadis Kebudayaan saat ditemui di sela-sela pertunjukan petang kemarin, Minggu (10/10).
Keadaan ini turut membuat gembira Made Mudra Kadis Kebudayaan yang baru dilantik yang sebelum menjabat Kadis dipercaya sebagai Camat Denpasar Barat. Ketika ditanyai komentarnya Mudra mengatakan, ajang kreatifitas seni dan budaya yang digelar setiap tahun disamping sebagai upaya pelestarian event ini juga bertujuan untuk menggali dan mengembangkan karya-karya baru yang fenomental disamping mencari bibit-bibit baru yang potensial. Sehingga nampak jelas dimata kita dengan digelarnya event seni dan budaya seperti ini menunjukkan bahwa nafas berkesenian orang Bali tidak akan pernah mati atau pudar ditelan jaman, ujarnya semangat. Disamping itu para pedagang juga mendapat imbas dari event ini sehingga boleh dikatakan event ini tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh seniman saja namun para pedagang juga ikut menikmati. Pada penampilan tersebut ditampilkan empat sekeha gong anak-anak diantaranya Banjar Poh Gading, Banjar Kertasari Panjer, Dauh Kutuh Desa Ubung dan Banjar Merangga Desa Kesiman.
Sebelumnya juga ditampilkan gong klasik dari Banjar Titih Dauh Puri Kangin dengan kreasi tabuh angklungnya dan Banjar Kedaton Kesiman dengan tetabuhan Leluangan/Saron. Yang menarik pada pementasan kemarin adalah hadirnya tari Lasem oleh dua penari cantik dari Banjar Kertasari Panjer yang mampu membuat decak kagum penonton. Kibasan kipas serta sorot mata yang penuh ekspresi serta gerak tubuh berkarakter, tarian ini sangat pas dibawakan apalagi para penabuh begitu cekatan memainkan insrumen lagu dengan nuansa semare pegulingan sebagai gending petegak yang terkesan sakral penontonpun terasa dibawa keawang-awang. Tidak kalah menarik juga ditunjukkan Sekeha Gong Anak-Anak dari Ubung Kaja dengan tabuh kreasi pepanggulan. Tabuh telu yang dikemas menjadi tabuh kreasi tradisi tanpa meninggalkan uger-uger pokok seperti keklenyongan, pengecek, petegak dan pengawak dengan tehnik pepanggulan yang harmonis menjadikan tabuh ini begitu utuh dan berjiwa. Dengan membawakan masing-masing satu tabuh dan satu tarian seluruh peserta yang tampil pada malam kemarin mampu menghipnotis penonton. Hadir pula menyaksikan pertunjukkan tersebut Nyonya Bintang Puspayoga dan para pejabat di lingkungan Pemkot Denpasar. (Sdn)